Berita - Penerimaan Sumbangan

Jumat, 02 Juli 2010 19:33:37 Wib

Upaya Membangun Karakter

sukmaDI Hong Kong, banyak warung makan menyajikan hidangan udang impor. Untuk membuktikan kesegaran udang, mereka memamerkannya hidup-hidup di belanga-belanga berisi air. Pelanggan memilih yang mana, udang impor dari Indonesia, Jepang, atau Korea? Yang dari Indonesia ditempatkan di belanga terbuka karena tidak ada udang yang bisa merangkak ke luar. Setiap kali ada yang mau ke luar, udang di bawahnya akan menariknya kembali masuk air. Sebaliknya, belanga dari Jepang dan Korea ditutup sebab udang-udang itu bisa merangkak ke luar karena didorong udang-udang di bawahnya.


Sepintas, kisah itu seakan mengumpamakan betapa lemahnya semangat kebersamaan masyarakat Indonesia, terutama setelah individualisme sebagai ciri sikap modern menerjang asas kebersamaan, yang mencirikan norma budaya Indonesia. Sekarang orang bukan saling membantu, malahan saling menjatuhkan.




Kisah itu minggu lalu diceritakan oleh Syamsul Muarif, politikus asal Kalimantan Selatan dan mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (2000-2004). Dia berbicara di depan puluhan guru Yayasan Sukma yang sedang berlibur ke Jakarta. Pesan yang tersemat untuk para guru itu ialah selain pendidikan ilmu pengetahuan, demi pembangunan karakter, pendidikan moral dan etika jangan dilalaikan.




Di masa Orde Lama, ungkapan nation and character building menjadi buah bibir di mana-mana. Di masa Orde Baru, pengajaran Pancasila digairahkan di mana-mana. Pada saat ini, keduanya kurang mendapat perhatian.




Kebersamaan untuk bidang pendidikan

Sekadar mengingatkan, Yayasan Sukma Bangsa yang berdiri pada 25 Februari 2005 menyelenggarakan jaringan lembaga pendidikan untuk anak-anak Aceh korban tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara menjelang akhir 2004. Selama 40 hari berturut-turut, Metro TV menyiarkan berita bencana tersebut dibantu Media Indonesia dan Lampung Post. Pengumpulan donasi dan kontribusi dari publik lewat program Indonesia Menangis telah memungkinkan pengiriman bantuan langsung kepada para korban, waktu itu. Untuk bantuan yang lebih permanen, Yayasan Sukma Bangsa dengan dukungan Media Group merehabilitasi bidang pendidikan karena akibat bencana tersebut, Aceh telah kehilangan sampai 35% potensi intelektualnya. Sejumlah besar guru, pengajar perguruan tinggi, serta fasilitas-fasilitas pendidikannya telah menjadi korban tsunami.



Berbicara tentang pendidikan, kebersamaan atau kegotongroyongan di bidang pendidikan, seperti yang diselenggarakan Yayasan Sukma di Aceh, sebenarnya bisa ditegakkan di mana-mana. Kalau di Aceh semangat itu bisa hidup sampai sekarang, di wilayah selebihnya, di Nusantara, tentunya pun bisa.



Robert N Bellah, pengajar di Universitas Berkeley, AS, yang menulis The Good Society (1991) dengan teman-teman seprofesinya menyatakan bahwa filsuf-filsuf Yunani kuno mengartikan pendidikan bukan hanya pendidikan formal lewat sekolah-sekolah. Aristotle (384-322 SM) bahkan berpendapat, adalah tugas negara (kota) untuk memberlakukan hukum, yang tertulis maupun yang tidak, untuk bisa mendidik warganya agar menjalankan kebajikan dalam hidup. Karena hanya bila warganya menjalani hidup semacam itulah, masyarakatnya bisa baik. The good society akan tercipta. Itu sebabnya yang diartikan pendidikan oleh Aristotle adalah hukum dan moral seluruh masyarakat. Itulah yang mendidik warga, tua maupun muda. Bagi Plato dan Aristotle, para pendidik yang ulung adalah mereka yang menetapkan dan memberlakukan hukum tersebut.




Pendidikan di luar sekolah

Sekarang yang kita maksudkan dengan pendidikan terutama adalah pendidikan formal dengan berbagai lembaganya, dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi, yang menampung warga dari segenap usia, untuk berbagai tujuan. Sebaiknya kita ingat, perkembangan ini terjadi baru selama satu abad terakhir, khususnya dalam abad ke-20. Pada abad ke-19 di Amerika, misalnya, pelajaran baca-tulis banyak dilakukan di rumah-rumah atau di gereja-gereja. Bukan berarti warga Amerika waktu itu tidak terdidik. Ribuan buku diimpor dari Eropa dan banyak yang diterbitkan di Amerika. Di masa revolusi pada abad ke-18, buku Common Sense karya penulis politik Thomas Paine (1737-1809), yang membakar semangat warga Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris, habis terjual sampai 400.000 eksemplar setelah terbit tahun 1776, ekuivalen dengan 24 juta eksemplar masa kini. Berarti warga Amerika waktu itu sudah pandai baca-tulis dan mampu berdiskusi tentang masalah-masalah rumit, sekalipun yang mereka peroleh bukan pendidikan formal. Tulisan Paine telah ikut membangun Amerika seperti yang ada sekarang dan menciptakan visi tentang masyarakat yang adil. Sampai sekarang, buku itu tetap menjadi sumber ilham bagi mereka.



Keadaan tersebut mirip dengan di zaman filsuf-filsuf Yunani kuno. Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman mereka ialah pendidikan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat. Keluarga, media massa, pusat-pusat keagamaan, berbagai organisasi massa maupun politik memiliki tugas mendidik, sama pentingnya dengan tugas lembaga-lembaga pendidikan formal. Koran, buku, pamflet seyogianya banyak beredar. Seminar-seminar dan diskusi-diskusi sebaiknya banyak diselenggarakan dan diikuti banyak peserta. Ini menegaskan, kalau kita bicara soal pembangunan karakter yang ada di luar jangkauan penuh pendidikan formal, rasanya tanggung jawab itu juga ada pada masyarakat. Kalau kita bicara soal krisis moral, penanggulangannya pun menuntut kepedulian dan kerja sama kita bersama. Apakah itu soal korupsi, pornografi, atau apa saja. Lembaga-lembaga filantropis mampu mengadakan gerakan moral demi kesejahteraan masyarakat, termasuk moral spiritualnya. Cara demikian akan lebih efektif daripada masyarakat menunggu aba-aba.



Oleh Toeti Adhitama, Anggota Dewan Redaksi Media Group


Source Artikel MI Upaya Membangun Karakter


Komentar tidak detumakan untuk artikel ini..!

Site Sekolah

Rekening Donation

Bank Mandiri Cabang Plaza Mandiri No.Rekening: 070-00-1555555-5 (Rupiah) Jl.Gatot Subroto Kav.36-38, Jakarta Selatan 12150

Bank Central Asia (BCA) Cabang Kedoya Baru No.Rekening: 309-301-7974 (Rupiah)

Flash Info Terkini

Youtube Movie

Partner : borneo news kick andy kick andy kick andy kick andy