Berita - Kegiatan Sukma
Rabu, 04 Mei 2005 11:08:52 Wib
Media Group Mulai Bangun Sekolah Unggulan di Aceh
LHOK SEUMAWE (Media): Pembangunan Sekolah Unggulan Kemanusiaan (Sukma) bagi korban bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Nias dimulai. Kemarin, Pemimpin Media Group Surya Paloh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Sukma di Lhok Seumawe, Aceh. Sehari sebelumnya Surya melakukan peletakan batu pertama pembangunan sekolah unggulan serupa di Kabupaten Pidie dan Bireuen. "Sekolah Unggulan Kemanusiaan ini merupakan persembahan masyarakat melalui Media Group untuk misi rekonstruksi Aceh dan Nias," kata Surya Paloh saat peletakan batu pertama Sekolah Sukma di Lhok Seumawe, kemarin. Dalam acara yang juga dihadiri Menteri Negara Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil dan para pejabat setempat itu, Surya mengatakan pihaknya akan membangun sekola unggulan di lima tempat, yakni Kabupaten Pidie, Bireuen, Lhok Seumawe, Banda Aceh, dan Nias, Sumatra Utara (Sumut).
Pembangunan Sukma di Banda Aceh saat ini masih dalam tahap tender. Sedangkan untuk Nias masih dalam tahap pencarian lokasi yang tepat. Dikatakan, pembangunan Sukma di Pidie, Bireuen, dan Lhok Seumawe ditargetkan selesai sebelum 26 Desember 2005 atau setahun setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias. Seluruh dana pembangunan dan operasional selanjutnya sekolah ini berasal dari bantuan masyarakat melalui Dompet Kemanusiaan Indonesia Menangis Media Group. Pimpinan Media Group telah mendirikan Yayasan Sukma untuk mengelola dana masyarakat tersebut dalam jangka panjang. Menurut Surya, pendirian Yayasan Sukma berawal dari pemikiran agar seluruh pengelolaan dana sumbangan masyarakat melalui Media Group berjalan efektif dan dikelola secara profesional untuk jangka panjang.
Sekolah unggulan merupakan salah satu bentuk bantuan yang diwujudkan. Sekolah ini akan dibangun dengan sarana pendidikan superlengkap. Di setiap kompleks sekolah akan dibangun fasilitas pendidikan tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Kompleks itu juga akan dilengkap dengan kantor administrasi sekolah, asrama putra dan putri, lapangan olah raga, serta musala. Selain itu, akan dibangun fasilitas perpustakaan dan laboratorium, serta fasilitas penunjang kegiatan lain, seperti toko koperasi, dapur, kantin, ruang musik, dan klinik. Kompleks sekolah dibangun di atas tanah yang disediakan pemerintah daerah setempat. Sekolah-sekolah tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah setempat untuk dijadikan sekolah negeri. "Namun, semua sekolah itu akan memberikan pendidikan gratis. Dananya akan diambil dari dana abadi yang disisihkan dari sumbangan masyarakat yang dipercayakan kepada Media Group," tegas Surya. Sekolah Sukma di Pidie dibangun di Desa Pineung, Kecamatan Peukan Baro, di atas lahan seluas 7,2 hektare. Di Bireuen, kompleks Sukma dibangun di Desa Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa, dengan luas tanah lima hektare. Sedangkan di Lhok Seumawe, Sukma dibangun di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, dengan luas tanah 6,3853 hektare.
Setiap kompleks sekolah dibangun dengan anggaran Rp30 miliar. Menurut arsitek pembangunan Sukma Paul Tan, seluruh bangunan menggunakan konstruksi tahan gempa. Dari perspektif pendidikan, tanpa restorasi sarana dan prasarana sekolah yang serius dan komprehensif, Aceh terancam kehilangan intelektualisme untuk satu generasi akibat bencana gempa dan tsunami di Aceh 26 Desember 2004. Sebagai gambaran, bencana itu telah menghancurkan 1.214 sekolah, terdiri atas 914 SD, 155 SMP, 67 SMA, 15 SMK, dan 63 TK. Bencana tsunami yang terbesar dalam sejarah itu juga menyebabkan 1.814 guru meninggal, termasuk 103 dosen Universitas Syiah Kuala, dan 92 dosen lainnya hilang.
Komentar tidak detumakan untuk artikel ini..!
